Tampilkan postingan dengan label sajak-sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak-sajak. Tampilkan semua postingan

19 Mei 2011

Isyarat Kilat

Jika sempat, suatu saat inginku kau melihat dari darat, banyak kilat menjilat laut pekat. Bukan soal ngalamat atau firasat, hanya sekedar isyarat dari senyap agar kita segera merapat dalam dekap.

Rembang, ketika bulan lengkap dan 20 Mei kurang seperempat.

30 Jan 2011

serangkai sajak dua bajingan kecil



1
dua bajingan kecil

dua bajingan kecil kencing di atas lalu lintas yang ramai
menyusun kenangan tentang kemarau dan musim badai
sementara sungaisungai menjulur lewat pintu rumah tanpa jendela
hendak bercerita tentang penginapan, bak mandi, dan wc

sungaisungai menangis di atas wastafel dan kencing beramairamai
dua bajingan kecil mati menelan sepi

2010


2
desember serak

dua bajingan kecil yang kau kata mati itu
tak hendak meliang kubur

yang satu menarikan selerak menghitung umur
menipu cuaca mengamili kalender

yang lain mengencingi desember
bertubi hujan balik menimpuk tulang telanjang mereka

dua bajingan kecil yang kau kata mati itu
adalah kita, yang mulai bosan
bergelanyut di ujung tahun yang kian berjamur

sesekali, berteriaklah hingga serak
sudah sampai mana januari?

2010

3
januari

kita tidak sedang di beranda januari, katamu
kita hanya sedang mewarnai ujung kalender
yang semula kelam kini makin mengabu

kita tidak sedang berpagut, katamu
hanya nafas-nafas yang saling bertaut
memaksa kalender tersenyum kecut

sedang januari menyusun angkaangkanya
untuk jarak kita yang semakin menciut

2011

4
bukan salah januari

tapi awan yang tak pelak hamil mendung
atau kau kah itu yang menghukum januari?
bukankah angkaangka telah kita simpan rapatrapat di ketiak?

ayolah sayang, bukan salah berahi meregang
tapi salah dingin yang enggan padam
memaksa sehari tujuh kali menghujam

2011

5
hai apa kabar kurcaciku yang kuhujankan seminggu lalu dirahimmu?
aku tahu mereka menyusuri bintik belang di mata pelangimu
lalu begitu pelan memanggilmu, ibu

bukan kah kemarin
ketika tujuh kereta terpotong
dan isi penjara mendadak kosong
kau girang minta tolong
jangan menendang dulu, dong

ah, sayang sudahkah kau siapkan seutas nama?


:kelak jangan kau ceritai kurcacikurcaci itu tentang dua bajingan kecil setahun yang lalu

2011


gambar nyolong dari sini

10 Jun 2010

kita tidak sedang pada tuhan

Bukankah alam adalah kita, juga kau dan aku. Tak hanya mereka. Maka dari itu sajak-sajak berikut perlu saya tulis.


kita tidak sedang pada tuhan
kita tidak sedang pada kelelahan bumi
yang tua dan malas berjalan
kita tidak sedang pada ketamakan matahari
yang bosan tak bergoyang
kita tidak sedang pada kebodohan awan
yang ceroboh dan gaib
kita tidak sedang pada lubang di jalan
yang seksi dan mempesona
kita tidak sedang pada kawah candradimuka
yang berlumpur dan kelam
kita tidak sedang pada tanah yang sensasional
yang suka bergoyang dan menelan
tapi kita tidak sedang pada tuhan
itu saja


4 Juni 2010


kebakaran (jenggot)

manusia sedang perang dalam asap-asap yang romantis
mereka merebut kesunyian dari rasa lapar
asap-asap yang lapar memangsa manusia yang romatis
dari cerobong-cerobong berjalan dan pembantaian bangsa hijau
bangsa-bangsa hijau semakin kurus dan lapar
lapar tak kenyang minum air
bangsa hijau muntah-mual jadi banjir
manusia sangat romantis ketika kebanjiran
celananya seksi naik setengah lutut
mereka jadi rindu kebakaran

4 Juni 2010


Gambar dari sini


3 Mar 2010

hibernate session

Hello juragan,
Kaum Darurat mohon ijin mengerjakan proyek offline untuk beberapa minggu.

Ini saya lampirkan semacam sajak sebagai penanda.

Dua Bajingan Kecil

dua bajingan kecil kencing di atas lalu lintas yang ramai
menyusun kenangan tentang kemarau dan musim badai
sementara sungai-sungai menjulur lewat pintu rumah tanpa jendela
hendak bercerita tentang penginapan, bak mandi, dan wc

sungai-sungai menangis di atas wastafel dan kencing beramai-ramai
dua bajingan kecil mati menelan sepi

2010

7 Jan 2010

Miyabi, Rin Sakuragi, Gusmel Riyadh, Hendri Mulyadi, Agus Sunarto, dan Nay dalam Rasa Takut yang Berbeda



-Catatan pembunuhan babak pertengahan-

hai, namaku gusmel, kamu siapa?
ibuku sedang sibuk dan aku sedang menyusun senja yg buruk, kau ingin jadi anjing?

hai, namaku senja, kamu lahir dari ibumu?
aku selalu melahirkan anjing dan juga rasa takut

hai, namaku patah hati, aku dilahirkan setiap senja dan setiap jam menjelang tidur panjangku. aku berkali-kali mati dan berkali-kali dikasihani. tolong jangan lakukan ini. kau tahu satu-satu organku yang selalu hidup? jawabnya:hati.

hai, namaku peristiwa. bukan cinta.
orang-orang didekatku hanya memiliki aku. bukan cinta.
kau tahu siapa pembunuh itu? jawabnya:cinta.

hai, namaku cinta
aku melahirkan miyabi dan rin sakuragi

hai, namaku rin sakuragi.
aku bukan artis porno. aku hanya punya hobi telanjang dan membantu peristiwa-peristiwa yang pembunuhan cinta.

hai, namaku miyabi
aku hidup dengan peristiwa, untuk itu aku tak pernah patah hati.

hai, namaku nay
seorang laki-laki memberi nama itu kepadaku
aku gadis yang terlalu banyak berpikir
aku tenggelam dalam peristiwa-peristiwa
teman-teman lelaki (yang memberiku nama nay) itu bilang aku cantik, dan lelaki itu pun setuju
aku tersenyum dalam peristiwa itu
jangankan patah hati, cinta pun aku tak tahu apa itu
aku hanya punya rasa takut

hai, namaku gusmel, masih ingat?
aku mulai membenci peristiwa-peristiwa
aku menantang peristiwa-peristiwa

hai, namaku peristiwa
iya, kalian sering mendengarnya
dan tampaknya ada yang sedang membicarakanku
aku diam saja kalau begitu
anak-anakku banyak dan macam-macam
ada rasa takut, ada cinta, ada patah hati
pekerjaanku memaksa yang lain untuk berpikir

hai, namaku agus, aku telah mati bunuh diri di Grand Mall
masih ingat?
ups, jangan bilang-bilang, sebenarnya aku dibunuh
hanya kau yang tau rahasia ini

hai, namaku waktu
aku selalu menjadi korban pembunuhan

hai, namaku putus asa,
aku melahirkan hendri mulyadi dan agus sunarto

hai, namaku rasa takut
aku adalah pembunuh itu


-www.kaumdarurat.com-

30 Nov 2009

Seperti Hujan Kita Bertukar Dingin (perempuan dan hujan dalam potret kata-kata)

Kenapa saya tiba-tiba menulis hujan? Bukankah hujan sudah terlalu sering dalam sajak? Bukankah sudah diterangkan oleh para master-master penyair tentang 'hujan' dalam puisi? 'hujan' yang bukan hujan.
Ah, saya mencoba tak peduli saja. Saya hanya hendak memotret perjumpaan saya dengan seorang perempuan. Entah sedang hujan atau tidak, saya telah mengundang hujan dalam sajak ini, semoga berkenan hadir. Saya memilih sajak karena saya belum mempunyai kamera. Itu saja. Silakan menikmati potret kata-kata.


Seperti Hujan Kita Bertukar Dingin 

:perempuan berkemeja abu, berambut lurus, berpunggung melengkung kebelakang

aku menemuimu bersama kantuk yang hampir melajang
lalu kau tidurkan aku di belahan nafasmu
menguliti malam yang kaku ditiup hujan
hujan-hujan yang lucu, seperti daging yang kau pintal menjadi susu
hujan-hujan yang manja, seperti kupu-kupu melingkari gambar cinta

:perempuan berkemeja ungu, berambut lurus, berdada condong ke depan

kau meyakinkanku tentang bumi yang semakin pipih memanjang
tempat dimana jantungmu telungkup di jantungmu yang telentang
mengerjai malam-malam yang bandel dan kelam
sekelam rambutku yang menggelitik ujung-ujung gaun
sekelam dahimu yang telah habis bertekuk-tekuk cium

mari! -ajak seorang malam-
menguliti hujan
biar mereka kedinginan
biar mereka bertukar tawa
melihat mereka, hujan-hujan yang telanjang

aku dan kau hanya bertukar senyum
setelah lelah bertukar tawa
bertukar dingin

30 November 2009
Gusmel Riyadh

Akhir bulan yang tegang

gambar dari sini

13 Nov 2009

HARI PAHLAWAN DAN TUBUH-TUBUH YANG TERBELAH


Kebetulan di hari Pahlawan mati lampu 2 jam. 19.00-21.00... Istirahat darurat, berkeliling taman sekitar alun-alun Karanganyar. Remang-remang, ups, tidak hanya remang, tapi gelap gulita.

ini sketsa dari yang ku lihat itu, semoga dapat diterjemahkan:

dua tubuh terbelah di ujung kalender
memaksa hujan melupakan awan
mengetuk bumi
menanti sepi

dua tubuh di pasung arah
melukai peristiwa-peristiwa dan abad yang tersengal

dua tubuh bergetar
membaca dan menghapus cuaca

dua tubuh rangkum dalam semangkuk puisi cinta yang cengeng
dua tubuh mati dalam satu kain kafan*


Gusmel Riyadh
10 November 2009

*mati dalam satu kain kafan adalah petikan dari puisi Aan Mansyur (yang aku lupa judulnya, panjang soalnya)

21 Jun 2009

BABI BERSIN


semalam aku lihat bunga plastik tumbuh di hidungmu
ia terus tumbuh oleh air matamu
aku tak tahu bunga dan air mata itu untuk apa

esoknya kudapati bunga plastik itu meleleh di mataku yang mendidih
dokter bilang ada babi menerkam orang-orang yang tidur nyenyak di hidungku
babi itu kentut mengenaimu
mengejutkan bunga-bunga plastik yang kau rangkai dengan mata gemetar

sekarang babi itu melayat untukku membawa bunga plastik darimu

30 April 2009

gambar dari sini

11 Jun 2009

aku bukan puisi

: pledoi puisi*

aku bukan puisi, katamu
ketika kutanya kau apa matamu itu kata-kata

aku juga bukan puisi, kataku
ketika kau bilang tubuhku beralinea berlekuk cium
tapi terbuntal telanjang tanpa kata

apa kalian puisi, tanya mereka
ya, kami puisi, jawab kau dan aku
sambil mengemasi kata-kata yang belum selesai jadi puisi

28 April 2009

*pledoi puisi: judul puisi Teguh Trianton sekaligus dijadikan judul kumpulan puisi yang diterbitkan Taman Budaya Jawa Tengah



5 Jun 2009

biografi rasa lapar dan foto keluarga yang terbakar

biografi rasa lapar dan foto keluarga yang terbakar

1
aku berkunjung ke foto keluargamu
ada kue ulang tahun di mata nenekmu
ah, keluargamu sama-sama berulang tahun
mereka sama-sama dilahirkan nenekmu di hari minggu
sebab senin hingga sabtu keluargamu sibuk mati

2
ayahmu mati di tengah laut dimakan rasa lapar
ibumu mati karena biusnya sendiri
kakak perempuanmu mati oleh uang belanja dan impian
kau sendiri mati di pelukanku
tanpa rasa lapar
tanpa jarum suntik
tanpa uang belanja dan impian

3
Kau membakar foto-foto kekasihmu yang tak ada wajahmu
Kau bilang untuk kenangan ketika nanti lapar

4
Aku menjadi foto di ruang tamumu
Kau selalu membentak
setiap kali fotoku terbahak-bahak
melihatmu ganti baju di ruang tamu
“hus, nanti ketahuan suamiku!” katamu

5
Kau sibuk memasang foto-foto lelaki lain di ruang tamumu
Aku merasa risih tiap kali foto-foto itu bertanya pada fotoku
“kau suaminya yang keberapa?”

6
Foto-foto itu kini berubah menjadi kue ulang tahun
Nenekmu tak akan pernah lapar lagi
Ada ayahmu, ibumu, kakakmu dan kau sendiri
Terbakar dalam satu pigura yang bernama mati

25 Mei 2009

GUSMEL RIYADH

26 Mei 2009

aku baca sajak itu sembari mengunyah matamu

(kronologi singkat tentang kita yang tak bertegur sapa)

selamat datang, silakan duduk di bangku kedua belakangku
agak satu meter ke kanan, duduklah pelanpelan

kau tak akan pernah mengerti bagaimana mata kita berangkulan
salahkan kau, kenapa tak berkaca mata malam itu, maka matamu berkeliaran
dan diamdiam mataku memperkosa matamu

sebulan kemudian, tak perlu sembilan
matamu akan melahirkan banyak mata
yang jadi camilan ketika kubaca sajaksajak ini

25 Mei 2009
Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah

Catatan:
Mata kita adalah keluarga besar yang memiliki tradisi menonton pertunjukan. Ada mataku sebagai bapaknya, matamu ibunya, dan dua pasang mata anak kita. Sebelum mereka lahir, kita sempat memberi nama bersama-sama. Tapi aku khawatir yang lahir hanya mata-matanya saja. Maka, aku akan meminangmu dan kita ciptakan tubuh-tubuh mereka.

nasi goreng yang lapar itu bernama puisi

-iyung

iyung, jangan jadi penyair!
agar nasinasimu tak tumpah dalam piringku
atau perempuanmu menari di atas penggorengan

iyung, jangan jadi lapar!
agar sajaksajakku tetap teraduk dalam mimpi asingmu
atau perempuanku menyanyikan pengorengan ketika tenda warung itu terbongkar

iyung, mari kita rebah!
setelah malam yang basah dan sajaksajak yang gosong

25 Mei 2009

Catatan:
Untuk Iyung yang ingin jadi guru. Ketika kubilang penyair itu guru sejuta umat, ia lebih memilih nasi goreng yang gelap. Ia berencana kembali ke warung itu lain kali dan mendengarkan sajak-sajak gosong atau beberapa malam wangi yang menggodanya. Ah, ia masih sangat muda. Pikirkan saja tentang sepak bola biar bapakmu tetap mengakui kau adalah anaknya!

27 Apr 2009

sajak untuk tukinem yang bernama keren samantha sinema elektronik













seberapa malam matamu pagi ini hingga ayam berkokok tak mampu menghinggapi jam weker yang membangunkan semak-semak di hari jumatmu yang sepi itu?


ah, orangorang pun tak singgah pada pernikahan petangku, kata mereka: dasar malam! kenapa tak pulang saja kau pada suami pagimu kemarin?

21 April 2009

13 Apr 2009

di sebuah kematian kita bertemu









: Luluk



apa boleh kukatakan bahwa warna bibirmu di kematian itu melipatkan getaran bibirku jauh dari ketika lapar-lapar menjemputku?

dan bolehkah kujawabkan pertanyaanku itu untukmu?
barangkali kau menjawab: iya, bibir ini sedingin salju. dan sengaja kuwarnai dengan ludahku untukmu jika kau mau berkaca.

wow, seindah itukah susunan daging tipis bertautan itu?

lalu kau pun harus percaya, tak disetiap kematian akan kau temui perpisahan, sebab di situ aku menemukan matamu dengan tahi lalat di pipi kananmu.

dasar lalat tak tau ajar,
kau anggap toiletkah kulit mawar perempuan ikal yang melumat mataku itu?
lain waktu kalau bertemu akan kutunjukan surga di wajahnya, sehingga kau akan terlampau dosa telah buang air di sana.

wahai perempuan, hanya jenasah ayah kawanku itu yang tersenyum, selebihnya, para pelayat itu melihatku cemburu atas pertemuan mata kita yang mereka bicarakan.

lalu, apa kau percaya mata ini mendadak beku karena salju dibibirmu itu?

bolehkah kujawabkan sekali lagi pertanyaan itu?
barangkali kau pun menjawab: tidak, matamu tak beku, bibirku yang mencair tertimpuk pandanganmu.

seketika itu juga aku membayangkan kita ada di film Titanic yang terkenal itu. kau terbang berhambur di pelukanku, tertahan sebentar sekedar untuk memandang mataku.
lalu angin laut membuat nafas kita mencair dalam bibir-bibir yang menyatu.

Wonogiri, 12 April 2009

12 Apr 2009

selamat malam rindu

aku sedang mengencani sunyi,
adakah di bagian matamu yang bergambar aku?
dan akan kubawakan kunang-kunang
untuk matamu yang kini kembali biru

Pojok, 12 April 2009

10 Apr 2009

sajak pendek berjudul panjang

tentang pulau dan langit terpendam, di sepuluh jari lentikmu yang kini menjadi delapan belas, dan hitungan itu selalu membuat kacamatamu terlepas di kalendermu ini besama teman-teman yang mengirim ucapan selamat ulang tahun lewat kitab tampang*, yang tak kau rayakan karena langit-langit selalu menggodamu dengan mimpi-mimpi jarum suntik yang berkali-kali kau ceritakan kepadaku dulu

kepada: Haryani

tak ada kejutan, hanya persoalan dan pertanyaan, masih kah kau yang dulu?


10 April 2009,11.00.


* kitab tampang = facebook, istilah ini saya dapatkan dari saut situmorang.

1 Apr 2009

matamu yang berwarna anu berkaca-kaca, mungkin karna tak berkaca mata (lagi)

Mataku pun tersenyum dan berdetak-detak kencang seperti mau keluar mencium matamu. Entah apa yang sedang dipikirkan mataku saat itu. Sepertinya mereka, mataku dan matamu, pernah saling mengenal. Aku tak mungkin tahu dan menanyakan kepada mataku secara langsung. Tentu bahasa mata dengan bahasa lelaki sepertiku jarang bisa sepaham.



Lalu ada apa sebenarnya dengan matamu itu? Aku bilang matamu kini berwarna anu. Tapi kau bilang warnanya hijau keunguan. Ah, jelas sekali warna matamu itu anu keanuan, itu warna yang pernah kita ciptakan dulu. Warna tentang mata dan kaca. Kaca dan tubuh-tubuh yang terlipat dalam matamu. Tubuh yang tak bernama dan tak berwarna.



Dulu, sewaktu mata kita berjalan-jalan dan meninggalkan kita berdua dalam dingin bulan sebelas, kau selalu membiarkan mulut-mulut kita lepas dan menggunjing tentang kita. Kadang mereka saling senyum, kadang bertengkar, saling menendang, melumat, dan menjatuhkan. Kemudian mulutmu ‘mecucu’, seperti melafalkan huruf u. sedang mulutku manganga. Benar, seperti mengucap huruf a. Lucu ya mulut-mulut kita itu? Katamu, dengan warna mata belum anu seperti sekarang.



Ya, sekarang warna matamu begitu anu semenjak mulut-mulut kita tak saling bercengkerama. Hanya mata kita yang kadang saling menyapa.



1 April 2009

17 Mar 2009

Romantika Pelajar Tolol

Seusai praktikum berlalu aku jadi bimbang

Apakah anatomi itu haram?

Tidak, jika itu aku, jawabmu.

Tiba-tiba ususku menegang

Kaupun tahu dan malu-malu riang

Sebab kataku, usus itu membentuk namamu dalam perutku.

Sisanya keluar sekian senti sebesar genggaman dan terus menegang

Tidak!

Usus itu menerkammu

Mencabik dinding dosamu

Darah mengalir

Dan darinya kutoreh beberapa nama,

Anak kita.



Februari 2009

4 Mar 2009

Sepasang Februari



Sepasang Februari


di musim yang memerah

nafas mereka menyatu

daun-daun bergesekan didera cemburu


di televisi yang biru

lutut mereka memerah

daun telinga bergesekan tanpa malu


di rumah, televisi marah

menerkam sepasang februari yang masih merah


Februari 2009


9 Jan 2009

Implikasi 3/4


IMPLIKASI 3/4
- V -

Kapal pecah dan kwannya yg hanyut sempat mengutukku jadi kunang-kunang,
aku kunang2mu,
dan akan berlayar menuntut cahayamu,
sebelum kawan-kawannya memecahkan kapal 2 kali lagi di dadaku.
Dada yg berusuk dan berongga seukuran kunang2,
Dan sebesar hatimu.

9 Januari 2009


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More