Rembang, ketika bulan lengkap dan 20 Mei kurang seperempat.
Rembang, ketika bulan lengkap dan 20 Mei kurang seperempat.
Dua Bajingan Kecil
dua bajingan kecil kencing di atas lalu lintas yang ramai
menyusun kenangan tentang kemarau dan musim badai
sementara sungai-sungai menjulur lewat pintu rumah tanpa jendela
hendak bercerita tentang penginapan, bak mandi, dan wc
sungai-sungai menangis di atas wastafel dan kencing beramai-ramai
dua bajingan kecil mati menelan sepi
2010
Seperti Hujan Kita Bertukar Dingin
:perempuan berkemeja abu, berambut lurus, berpunggung melengkung kebelakang
aku menemuimu bersama kantuk yang hampir melajang
lalu kau tidurkan aku di belahan nafasmu
menguliti malam yang kaku ditiup hujan
hujan-hujan yang lucu, seperti daging yang kau pintal menjadi susu
hujan-hujan yang manja, seperti kupu-kupu melingkari gambar cinta
:perempuan berkemeja ungu, berambut lurus, berdada condong ke depan
kau meyakinkanku tentang bumi yang semakin pipih memanjang
tempat dimana jantungmu telungkup di jantungmu yang telentang
mengerjai malam-malam yang bandel dan kelam
sekelam rambutku yang menggelitik ujung-ujung gaun
sekelam dahimu yang telah habis bertekuk-tekuk cium
mari! -ajak seorang malam-
menguliti hujan
biar mereka kedinginan
biar mereka bertukar tawa
melihat mereka, hujan-hujan yang telanjang
aku dan kau hanya bertukar senyum
setelah lelah bertukar tawa
bertukar dingin
30 November 2009
Gusmel Riyadh
Akhir bulan yang tegang

dua tubuh terbelah di ujung kalender
memaksa hujan melupakan awan
mengetuk bumi
menanti sepi
dua tubuh di pasung arah
melukai peristiwa-peristiwa dan abad yang tersengal
dua tubuh bergetar
membaca dan menghapus cuaca
dua tubuh rangkum dalam semangkuk puisi cinta yang cengeng
dua tubuh mati dalam satu kain kafan*

biografi rasa lapar dan foto keluarga yang terbakar


Mataku pun tersenyum dan berdetak-detak kencang seperti mau keluar mencium matamu. Entah apa yang sedang dipikirkan mataku saat itu. Sepertinya mereka, mataku dan matamu, pernah saling mengenal. Aku tak mungkin tahu dan menanyakan kepada mataku secara langsung. Tentu bahasa mata dengan bahasa lelaki sepertiku jarang bisa sepaham.
Lalu ada apa sebenarnya dengan matamu itu? Aku bilang matamu kini berwarna anu. Tapi kau bilang warnanya hijau keunguan. Ah, jelas sekali warna matamu itu anu keanuan, itu warna yang pernah kita ciptakan dulu. Warna tentang mata dan kaca. Kaca dan tubuh-tubuh yang terlipat dalam matamu. Tubuh yang tak bernama dan tak berwarna.
Dulu, sewaktu mata kita berjalan-jalan dan meninggalkan kita berdua dalam dingin bulan sebelas, kau selalu membiarkan mulut-mulut kita lepas dan menggunjing tentang kita. Kadang mereka saling senyum, kadang bertengkar, saling menendang, melumat, dan menjatuhkan. Kemudian mulutmu ‘mecucu’, seperti melafalkan huruf u. sedang mulutku manganga. Benar, seperti mengucap huruf a. Lucu ya mulut-mulut kita itu? Katamu, dengan warna mata belum anu seperti sekarang.
Ya, sekarang warna matamu begitu anu semenjak mulut-mulut kita tak saling bercengkerama. Hanya mata kita yang kadang saling menyapa.
1 April 2009
Seusai praktikum berlalu aku jadi bimbang
Apakah anatomi itu haram?
Tidak, jika itu aku, jawabmu.
Tiba-tiba ususku menegang
Kaupun tahu dan malu-malu riang
Sebab kataku, usus itu membentuk namamu dalam perutku.
Sisanya keluar sekian senti sebesar genggaman dan terus menegang
Tidak!
Usus itu menerkammu
Mencabik dinding dosamu
Darah mengalir
Dan darinya kutoreh beberapa nama,
Anak kita.
Februari 2009